?

Log in

Shadows

(Taerin’s Point Of View)

Tak ada yang membuatku lebih lega dari pada saat aku menerima telepon dari kakakku pagi ini. Akhirnya setelah semalaman ia nyaris membuatku gila tanpa pemberitahuan apa pun tentang keberadaannya, ia menelepon juga. Dalam pembicaraan singkat itu, ia menjelaskan bahwa ia berada di tempat yang aman, dalam keadaan yang baik-baik saja, namun ada sedikit gangguan di tubuhnya. Ya, itu membuatku cukup tenang.

Memang bukan pertama kalinya dia tak pulang ke rumah, tapi ini pertama kalinya tanpa sekedar memberitahuku di mana ia berada. Saat seperti itulah yang membuatku merasa bahwa Oppa berada di tempat yang berbeda, bahkan berada di dunia yan tak sama denganku. Mungkin itu lah yang disebut sebagai urusan para laki-laki. Dan sangat mengesalkan bahwa itulah satu-satunya dunianya yang tak bisa kumasuki.

Hanya ada dua hal membuatku merasa perlu di sekolah sepanjang hari itu. Yoori dan Si Pemain Flute. Sekali pun aku sangat kesal padanya, tapi sungguh, nada yang dimainkannya membuatku merasakan rindu yang asing dan hangat di saat bersamaan. Setelah berpisah dengan Yoori dan beberapa teman laki-laki saat pulang sekolah, aku menyelinap dengan hati-hati menuju ruang musik. Tidak. Aku hanya akan berada di luar ruang musik. Berharap bisa mendengar permainan itu lagi.

Benar saja, saat mendekati tempat itu aku sudah dapat mendengar susunan nada indah dalam tiupan flute. Lagunya berbeda, entah apa, dan posisinya masih membelakangiku. Syukurlah. Aku meringkuk dengan menyamping, menempelkan kepala dan seluruh bagian tubuh bagian kiriku pada tembok.
Sekali lagi, aku dibuatnya pergi dari tubuhku sendiri, melayang menuju tempat yang aku sendiri tak tahu. Dan anehnya, aku membiarkannya, aku membiarkan lagu itu membawaku kemana pun yang ia inginkan.

“ Namanya Choi Minho-sunbaenim...”

Bisikan di tengkukku itu mengejutkanku. Rasanya darahku akan muncrat dari hidungku saking terkejutnya. Aku berbalik dan Yoori berada di sana. Ia juga ikut dalam posisi yang sama denganku. Aku sudah akan bicara dan meneriakinya, namun tangannya mencegahku melakukan itu.
Masih berbisik, “ kau mencurigakan Taerin-ah, jadi aku mengikutimu...”

“ Haish, kau sudah gila, bisa ketahuan kan...” balasku berbisik.
“ Tidak mungkin kalau kau diam saja,” Yoori memejamkan mata lalu menggerakkan tangannya mengikuti musik.

Aku menghela napas sambil menggeleng. Kembali memeluk lututku, lalu merasa ada yang terlupa, sesuatu yang dikatakan Yoori, sesuatu yang penting, tunggu, apa ya?
“ Nama orang itu siapa?” Tanyaku setelah mengingatnya.
“ Ha? Choi Minho, Minho-sunbaenim...”
Aku mengangguk-angguk, Yoori tersenyum menggoda.

Setelah itu, kami memutuskan untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan Si Pemain Flute dan lagu-lagunya. Tentu saja, posisi kami masih setengah membungkuk.
Aku terus menekuk wajah saat menunggu jemputan kami masing-masing di gerbang sekolah. Yoori terkekeh menggodaku.

“ Dia tampan, kan?” Kata Yoori, meminta persetujuan.
“ Aku tak pernah melihat wajahnya,” jawabku, dan disambut tawa Yoori.

Dan detik berikutnya Yoori terdiam, seperti tersedak tawanya sendiri. Aku mengernyitkan dahi, bertanya. Ia mengarahkan matanya yang bulat ke samping, isyarat yang memintaku melihat ke arah yang ia tunjukkan. Aku memutar tubuhku.

Rambut ikal, tubuh yang tinggi kurus, mata yang tajam, dia berdiri di sana. Choi Minho. Menyampirkan ransel pada salah satu bahunya sementara tangan yang lain menenteng kotak flute hitam mengkilatnya. Aku berusaha untuk mengalihkan mataku, dan aku tahu aku gagal.

Tiba-tiba ia tersenyum. Aku tahu Yoori menarik ujung sweaterku detik itu juga. Kami sama-sama terbius senyum itu. Ketika sebuah mobil merapat, saat itulah kami tahu bahwa ia tersenyum karena kedatangan mobil itu. Ia masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja, tanpa tahu ada dua gadis bodoh memperhatikannya.
“ Ba, bagaiamana?” Yoori terbata di hadapanku.
Aku menggeleng, tak tahu harus berkata apa, yang keluar dari bibirku hanya, “ mematikan...”

***

(Author’s Point Of View : Hyemee’s side -2 days later-)

Pekerjaan yang melelahkan akhirnya berakhir dan Hyemee dapat merasakan otot-ototnya menegang. Duduk di depan meja kerjanya terkadang membuatnya stress. Setelah berpamitan pada beberapa orang rekan kerjanya yang masih sibuk dengan bertumpuk-tumpuk kertas, Hyemee akhirnya pulang. Melangkahkan kakinya dengan setengah menyeret-nyeret ketika menuruni anak tangga di luar gedung kantornya.

“ Han Hyemee...”
Hyemee berbalik dan terkejut. Kim Hyunjoong berdiri di sana, di dekat sebuah mobil hitam mengkilat yang mengagumkan.

“ Mwo?” Responnya sambil berjalan ke arah pemuda itu, “ apa yang kau lakukan Hyunjoong-ssi?”
Pemuda itu tersenyum, “ mencoba berterimakasih, tentu saja.”
“ Hah? Maksdumu?”

Hyunjoong tak menjawab melainkan membuka pintu mobilnya dan menggerakan tangannya mempersilakan Hyemee masuk. Gadis itu terdiam karena terkejut dengan hal yang tiba-tiba dilakukan pemuda itu.
“ Silakan...” Hyunjoong berkata.

Masih sangat ragu dan tak dapat berbuat apa, Hyemee akhirnya masuk ke dalam mobil. Ia duduk dengan gelisah, merasa sangat aneh. Ia baru mengenal pemuda itu dua hari yang lalu melalui pertemuan tak terduga, dengan tubuh pemuda itu penuh luka. Bahkan bekas luka di keningnya masih terlihat. Hyemee menarik napas dalam ketika Hyunjoong duduk di sampingnya dan menghidupkan mesin mobilnya.

“ Oh ya, kau suka makanan apa?” Tanya Hyunjoong.
Hyemee membelalakkan matanya, “ a, a, tak ada yang khusus...”
“ Baiklah kalau begitu.”

Mereka meluncur di sepanjang jalan kota Seoul. Hyemee membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya ketika mereka memasuki daerah pertokoan elit dan mewah. Mengarahkan pandangan heran pada Hyunjoong yang tengah menahan tawanya. Hyemee berusaha mengontrol reaksinya, malu sendiri saat menyadari bahwa wajah Hyunjoong berubah merah muda menahan tawanya.

“ Kau ini mau apa sebenarnya?” Tanya Hyemee.
“ Sudah kukatakan kan, ingin berterimakasih padamu,” kata Hyunjoong, “ kau sudah menolongku malam itu, bahkan kau menemaniku paginya, dan bukankah aku sangat merepotkanmu?”

Hyemee tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya ia diam saja, membiarkan pemuda yang sedikit aneh itu melakukan apa yang ia inginkan. Mereka berhenti di depan sebuah restoran mewah dengan banyak kaca di sepanjang bangunannya. Setelah turun dari mobil, Hyemee merapikan pakaiannya, merasa penampilannya saat itu tak cocok untuk berada di sana.
“ Ayo,” kata Hyunjoong, Hyemee mengikuti di sampingnya.

Pelayanan mewah dan mengagumkan diberikan pada keduanya. Setelah memutuskan untuk memesan samgyetang , Hyemee melayangkan pandangan ke seluruh penjuru restoran dan terakhir matanya bertumpu di pemuda itu.

“ Apa?” Tanya Hyunjoong yang heran menangkap tatapan Hyemee.
“ Aku tak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya, dan sepertinya kau sudah sangat sering, jadi, sebenarnya apa pekerjaanmu?”
“ Hm,” Hyunjoong berdeham, “ aku meneruskan usaha keluarga dalam bidang percetakkan.”
“ Direktur atau sejenisnya?” Tanya Hyemee.
Hyunjoong diam sejenak, “ sebut saja begitu.”

Hyemee menghela napas. Lalu berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. Seorang direktur muda, tingkah laku yang baik dan-memang-terlihat terhormat, mengapa ia bisa berada di sana pada malam itu?
Makan malam itu berlangsung dengan lebih banyak obrolan yang dilemparkan oleh Hyunjoong. Hyemee hanya menjawab saja. Ia sangat kaku sepanjang percakapan. Hyunjoong mengurus bil ketika mereka telah selesai makan malam, sepertinya ia juga memesan sesuatu pada pelayan itu, karena Si Pelayan memberikan sebuah kantung makanan mewah padanya.

Mereka meninggalakn restoran tepat pukul 19.30. Mobil itu melaju membawa mereka menuju daerah pertokoan kecil tempat Hyemee tinggal. Sesampainya di depan rumah, Hyemee turun dari mobil setelah Hyunjoong membukakan pintu untuknya.
“ Gamsahamnida untuk makan malamnya,” kata Hyemee.
“ Ne, cheonmaneyo...” sahut Hyunjoong lalu mengulurkan kantung makanan pada Hyemee, “ ini untuk Hyejin, sampaikan terimakasihku padanya.”

Hyemee tersenyum. Berpikir bahwa orang ini mungkin saja memang benar-benar orang baik. “ Tentu saja akan kusampaikan.”
Hyemee melangkah menaiki anak tangga dan sebelum membuka pintu rumahnya, Hyunjoong memanggilnya.

“ Han Hyemee, bisa kah memanggilku Oppa saja?” Tanyanya sambil sedikit menggaruk tengkuknya.
Hyemee terdiam. Benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Wajahnya panas.

“ Aku tidak memaksa,” ujar Hyunjoong akhirnya, “ tentu saja hanya karena aku lebih tua darimu, jadi ya kupikir sudah seharusnya begitu.”

Hyemee tak bergerak dan diam cukup lama. Hyunjoong masih di sana, mengetuk-ngetukkan sepatunya yang mahal.

Akhirnya gadis itu dapat berbicara, “ baiklah...” Hyemee berkata agak menggantung, sambil menggigit bibirnya, lalu melanjutkan pelan-pelan, “ Op-pa.”

Hyunjoong tertawa. “ Jangan lupa berikan pada Hyejin,” katanya. Lalu pemuda itu masuk dalam mobilnya dan melambai pada Hyemee, gadis itu pun balas melambai.

Hyemee mengelus dadanya, merasakan bahwa ada batu bata berjatuhan menimpa paru-parunya. Sesak. Di dalam rumah, Hyejin sedang mendengarkan lagu dengan earphone-nya sambil menari-nari. Terkejut melihat kakaknya yang muncul di pintu sambil mendengus keras-keras dan menempelkan punggungnya di pintu.
“ Onnie...” Hyejin segera melepaskan earphone-nya, “ ada apa?”
Hyemee hanya menunjukkan kantung makanan pada Hyejin, “ untukmu...”

Hyejin mengambilnya dengan wajah berbinar-binar, “ omonaaa, kelihatannya enak,” Hyejin mengendus kantung itu lalu melanjutkan, “ pasti kau menggunakan uang tanpa pikir panjang lagi ya?”

“ Tidak,” jawab Hyemee seraya duduk di sofa, “ itu dari Hyunjoong-Oppa.”
Hyejin membelalakkan matanya, “ Hyunjoong? Lalu kau panggil dia apa? O, Oppa?”

“ Iya, bukankah seharusnya begitu?”

***

(That Man’s side)

Laki-laki itu mengelap senjata laras pendeknya di dalam ruangan yang remang-remang itu. Matanya yang tajam melirik ke sekeliling. Suara musik berdegup dari arah luar, dari tempat beberapa orang memilih untuk menikmati musik club dan mabuk-mabukkan. Ia sudah berada di sana selama tiga puluh menit. Ruangan itu ia pesan hanya untuk dirinya sendiri, karena hanya dari sudut itu ia bisa membidik sasarannya. Ruang karaoke pribadi di sebuah pub.

Ia dapat melihat dari celah jendela itu bahwa pria yang menjadi sasarannya tengah dikelilingi banyak wanita cantik. Beberapa botol anggur mewah bertebaran di sekeliling pria bertubuh besar itu, sementara di tangannya segelas anggur tergenggam erat.

Merasa sasarannya sudah masuk daerah bidikkannya, pria bermata tajam itu menutup matanya sesaat lalu menarik pelatuk senjatanya. Dan detik berikutnya, suara ledakkan terdengar. Melihat pelurunya tepat mengenai dada korbannya, pria itu segera bergegas meninggalkan tempat itu.

Keributan terjadi di dalam pub, beberapa orang berlarian dan para gadis berteriak melihat pria yang tertembak itu. Sang penembak ikut bergabung dengan rombongan orang-orang kalut yang berlarian keluar dari pub. Jejaknya tertelan dalam lautan manusia.

Setelah mencapai kendaraannya yang ia parkirkan di halaman pub, ia segera membuka topi yang ia kenakan. Mengendarai mobilnya keluar dari pub bersamaan dengan beberapa mobil lainnya.

Lalu pria itu bergumam, “ kali ini Si Keparat Pemakan Uang Negara yang kubunuh, sebenarnya aku lebih suka para importir ilegal.”

Ia memijat keningnya yang terluka. Bepikir dalam hati bahwa, hari ini cukup menyenangkan bahwa ia melewatinya bersama seseorang yang membuatnya sedikit tenang. Seseorang yang mungkin selama ini ia butuhkan dan tak pernah ada. Namun, sekarang ia menemukannya. Sosok mengesankan dan menenangkan. Tapi, pada akhirnya ia tetap saja harus masuk ke dalam dunia penuh kerisauan dan tentu saja, berdarah.

Pria itu mengerang, dan berkata pada diri sendiri, “ Kim Hyunjoong, kapan kah kau akan membersihkan tanganmu dari kotoran-kotoran ini? Mana ada gadis yang menginginkan seorang pembunuh berada di sisinya...”

***

I'm happy, still waiting for your comment :) thanks for visiting me^^
Something Right

(Hyejin’s Point Of View)

Menunggu bus membuatku frustasi, aku nyaris saja mengoyak lepas ujung sweaterku dengan kuku dan gigitan. Seharian ini aku cukup sibuk mengurusi para juniorku yang manis. Untung saja aku bukan tipe yang akan menelan mereka hidup-hidup kalau mereka melanggar peraturan bahkan di hari pertama mereka menginjakkan kaki di Cheonsang.

Seragam sekolah masih melekat di tubuhku. Tak ada keringat sedikit pun, mengingat ini musim gugur dan aku suka dengan hal ini. Kegiatanku hari ini adalah latihan menari, tepatnya aku melakukan modern dance yang menyenangkan. Ini rutin. Aku sudah mengikutinya selama setahun belakangan. Bukan seperti trainee, hanya club tari, dan kami melakukan pertunjukkan setiap bulannya. Penghasilan tambahan dari pekerjaan ini lumayan juga. Terlebih lagi aku senang melakukannya.

Aku merasa ingin mencekik supir bus yang baru saja menepi di hadapanku. Menggerutu kecil ketika mendapat tempat di paling belakang. Bus hijau panjang ini melaju, membawa aku dan selusin lebih penumpang lainnya ke halte berikutnya.

Aku turun begitu sampai di sana, masih harus berjalan sekitar dua ratus meter menuju tempat latihan. Gedung tua yang agak usang di hadapanku itulah markas kesayanganku. Aku segera masuk dan melihat anggota lainnya telah siap dengan baju latihan mereka. Lima orang perempuan dan sekitar tujuh orang laki-laki. Mengenakan baju-baju hiphop warna-warni, dan beberapa menggunakan topi. Semua menatapku dengan wajah tanpa ekspresi. Hanya cengiran yang kutunjukkan.

“ Mian hae, yorobeun...” kataku sambil menunduk sembilan puluh derajat.
“ Yah, tidak apa-apa...” jawab pelatih kami, Hyukjae-sunbae, “ cepat ganti bajumu.”

Aku mengangguk dan segera bergegas ke ruang ganti. Memilih kaous berwarna biru tua yang dibelikan Onnie sebagai hadiah gajiannya bulan ini. Rambutku ku ikat kuat sehingga ikalnya yang hanya di ujung saja terlihat indah. Aku juga mengenakan celana skinny berwarna hitam dan kets putih yang kusimpan dalam ranselku.

Setelah siap aku segera berlari ke tempat teman-teman yang lain tengah melakukan pemanasan. Ruangan besar yang tadinya adalah stadion basket itu dipenuhi suara dentuman lagu hiphop. Hyukjae-sunbae tampak tengah menghapalkan sebuah gerakan rumit yang membuatku ngeri.

Aku melakukan pemanasan bersama Taemin, seorang juniorku yang sangat baik. Kemapuannya luar biasa, Hyukjae-sunbae begitu kagum pada anak ini. Ia tengah menarik tubuhku meregang, punggung kami menempel satu sama lain.

“ Noona, sepertinya kau tambah kurus saja...” komentarnya saat kami melepaskan diri dari kaitan tangan masing-masing.
“ Ah, jincha?” Tanyaku tak percaya.
“ Sungguh,” jawab Taemin polos.
“ Kau bisa saja Tae,” aku lalu mengacak rambut jamurnya dengan lembut.

Kami tertawa bersama. Wajahnya yang polos membuatku senang bersama Si Kecil ini. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepalaku, rasanya seperti biji kacang polong besar. Aku memegang kepalaku, lalu berbalik dengan kesal.
Benar saja, bocah itu lagi, “ yah,” seruku, “ apa maumu?”
Pemuda berwajah jahil itu menunjukkan ekspresi menyebalkan. Ia melipat tangannya di dada saat aku berkacak pinggang seolah menantangnya.

“ Apa?” Tanyanya dengan suaranya yang dalam, “ aku hanya menyadarkanmu bahwa Taemin tidak serius mengatakannya.”
“ Haish, lalu kenapa? Apa masalahmu?”
“ Masalahku? Hm, apa ya?” Katanya santai.
“ Kau ini,” gerutuku.

Hyukjae-sunbae menepuk tangannya tanda kami harus menghentikan perdebatan dan memperhatikannya. Aku mendesis ke arah orang menyebalkan itu.
“ Oke, Hyejin dan Hyungjoon berhentilah membuang waktu pemanasan kalian...” ujar pelatihku itu, “ telebih lagi kau Joon, kau master B-boy, jangan sampai kepalamu patah saat melakukan pertunjukkan nanti.”

Aku terkekeh. Sementara orang yang diajak bicara oleh Sunbae hanya menggaruk tengkuknya. Malu.
Kami melakukan latihan dengan bersemangat. Aku berpasangan dengan Taemin. Kami menarikan setiap lagu dengan gerakan yang telah dilatih beberapa hari terakhir ini bersama Hyukjae-sunbae. Bocah menyebalkan itu melakukan gerakan mengagumkan dengan memainkan kakinya yang panjang. Mau tidak mau aku melihatnya dengan terperangah. Tapi segera kukesampingkan saat menyadari gerakanku mulai kacau dan menyulitkan Taemin. Aku meminta maaf padanya.

Taemin berjalan di sampingku ketika kami pulang saat latihan berakhir. Ia tampak letih, dan aku membagi isotonik untuknya.
“ Noona, lebih baik kau berbaikan saja dengan Joon-hyung,” ucapnya.
Aku tersedak, “ berbaikan? Oh, tidak Tae...”
“ Berbaikan? Tidak mungkin...” jawabanku disambung oleh seseorang yang baru saja berbelok dari arah lorong kamar mandi di samping Taemin, Hyungjoon.

Ia memang tak berbicara pada kami, ia sedang berjalan berdampingan dengan Hyukjae-sunbae. Aku mendengus. Hyungjoon berpura-pura menatap langit-langit. Dan Taemin menghela napas.
“ Sudah mau pulang Hyejin-ah?” Tanya Hyukjae-sunbae dengan kaku, sangat jelas mengalihkan obrolan.
“ Ya,” jawabku, “ kami duluan Sunbae,” aku dan Taemin membungkuk bersamaan dan berlalu meninggalkan mereka berdua yang dapat kupastikan akan melanjutkan diskusi mereka yang menyebalkan.

***


(Author’s Point Of View: Hyemee’s side)

Han Hyemee mengucapkan terimakasih pada paman penjual bulgogi di dekat tempat kerjanya. Ia kemudian menuju halte dan menaiki bus pertama yang berhenti di depannya. Ia dapat merasakan hawa hangat bulgogi dalam kantung di tangannya. Syalnya menutupi leher dan menghangatkannya. Sepanjang perjalanan membayangkan wajah adiknya akan berbinar mengetahui makan malam kali ini adalah bulgogi yang masih hangat.

Bus mengerem di pemberhentian pertama dan Hyemee turun di sana. Salah satu lengannya ia masukkan ke dalam saku mantel untuk mencegah udara dingin mengenai tangannya, dan sebelah yang lain ia gunakan menenteng kantung makanan. Ia berjalan pelan di sepanjang trotoar depan deretan toko kelontong dan kedai soju. Tawa para ahjussi membahana dari beberapa kedai. Membuat gadis 23 tahun itu berjengit, ngeri.
Belum apa-apa sampai dia melewati pub besar di sana, menguatkan langkahnya, namun ia cukup tenang. Cukup lama tinggal di daerah itu membuatnya dikenal oleh para satpam pub, sehingga Hyemee tidak merasa risih melewatinya.

Hyemee merapatkan mantelnya, karena udara makin terasa dingin dan memadat. Ia merasakan perasaan tak enak saat melewati sebuah celah pemisah dua buah bangunan tua yang gelap di dekat rumah kontrakannya itu. Samar-samar ia dapat mendengar suara rintihan seseorang dari dalam sana. Gadis itu memberanikan diri mendekati tempat itu, aroma debu basah dan barang bekas memenuhi tempat itu. Hyemee meraba sakunya mencari ponsel untuk sekedar memberikan sedikit cahaya di sana.

Hyemee menekan tombol ponselnya dan mengarahkan ke arah dalam tempat itu. Detik itulah hatinya mencelos. Sesosok tubuh laki-laki terlentang di dekat tong sampah di sana. Hyemee nyaris berteriak, namun dengan sekuat tenaga menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Ia mendekati tubuh itu dan berlutut memeriksa apakah orang itu masih bernapas. Iya, masih hidup.
Hyemee yang panik memasukkan makanan yang tadinya di tentengnya ke dalam tas kerjanya. Kali ini berkonsentrasi pada sosok itu.

Terdapat luka di kening kanan orang itu, namun darahnya mengalir di sepanjang pipi. Bajunya sudah sedikit sobek di beberapa tempat. Dan bercak darah di kemeja orang itu nampak mengerikan. Hyemee mengambil tindakan cepat, ia berusaha mengangkat tubuh lemas itu. Mengaitkan lengan panjang orang itu di bahunya dan berdiri sekuat tenaga.
“ Kumohon, bergeraklah sedikit saja,” bisik Hyemee.

Tubuh itu bereaksi. Setidaknya orang itu masih bisa bergerak sedikit, dan Hyemee berhasil mengangkatnya setelah berjuang beberapa menit. Dengan langkah terseok-seok Hyemee menopang tubuh itu menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter lagi. Keadaan sudah mulai sepi dan gelap. Dan untuk pertama kalinya Hyemee bersyukur karena hal itu, tak ada yang akan melihatnya memapah tubuh asing yang lunglai itu.

Ia mengetuk pintu rumahnya, berharap Hyejin segera membukanya. Benar saja, sang adik yang tadinya tersenyum bersemangat berubah suram melihat kakaknya yang tampil mengejutkan dengan sesosok tubuh asing di depan pintu.
“ O, O, Onnie!!” Seru Hyejin yang terkejut.
“ Hyejin-ah, bantu aku,” kata Hyemee yang tampak kacau, kacamatanya miring.

Hyejin segera bereaksi. Ikut mengaitkan lengan orang itu di bahunya, lalu menyeretnya masuk. Dengan susah payah kedua gadis itu menopang tubuh tinggi besar itu menuju kamar Hyemee, lalu membaringkannya dengan hati-hati.
Hyemee mengerang sesaat setelah meluruskan posisi tubuh itu. Hyejin menatap kakaknya seolah kakaknya sudah gila.
“ Onnie, siapa orang ini?” Tanya Hyejin dengan tatapan menyelidik.

“ Aku tak tahu,” jawab Hyemee seraya duduk di samping tubuh itu, “ aku menemukannya di dekat bekas toko Sooman-ahjussi, karena itu aku membawanya pulang.”
“ Astaga Onnie, kau sudah gila ya?” Tanya Hyejin frustasi, “ bagaimana kalau orang ini penjahat, lalu kita membawanya ke sini dan polisi menangkap kita, karena kita dianggap komplotannya, dan...”
“ Ssshhh!” Hyemee meletakkan telunjuknya di bibir, “ aku tak memikirkan sampai sejauh itu sih, tapi, yahh, lebih baik kau bantu aku mengobatinya.”

Hyejin mengerang karena jawaban Sang Kakak, namun secara otomatis menuruti perintah kakaknya itu. Ia mengambil kotak P3K dan semangkuk air hangat lengkap dengan kain kompres saat ia kembali.

***

Hyemee meletakkan bubur hangat di meja dekat ranjangnya, sementara orang asing yang dibawanya semalam masih tertidur. Ia dan adiknya telah memperban setiap luka di tubuh orang itu, mengelap bagian-bagian yang kotor, dan dengan canggung mengganti baju orang itu dengan salah satu jumper berukuran paling besar yang ia miliki. Hyejin lah yang mencuci pakaian pria itu.
Hyemee tersentak ketika tiba-tiba tubuh itu bergerak. Secara perlahan Hyemee menjauh, membiarkan pria itu sadar. Hyemee cemas bukan main membayangkan kemungkinan kebenaran kata-kata Hyejin semalam. Mengapa ia begitu bodoh?

Dengan gerakan spontan dan mengejutkan, pria itu bangun dan mengerang di saat bersamaan karena merasakan luka di lengan kirinya dan lebam di ulu hatinya. Hyemee panik. Ia menempelkan punggungnya dengan erat ke tembok.
Orang itu mengerjapkan mata dan menatap sekeliling. Tatapannya melewati Hyemee namun segera kembali ke gadis itu. Sama-sama terkejut.

“ Kau? Siapa kau? Di mana aku?” Tanya orang itu.
Hyemee menjawab dengan terbata, “ a, aku menemukanmu di gang kecil dekat rumahku, dan ini rumahku.”
Orang itu memijat hidung, sepertinya mengingat sesuatu, sesuatu yang terjadi semalam.
“ Hhhh, miah hamnida merepotkanmu Nona,” katanya kemudian.

“ Aku, namaku Hyemee, Han Hyemee, maafkan aku juga telah lancang membawamu kemari...”
Orang itu tersenyum. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Hyemee, membuat gadis itu sedikit mengikis rasa takutnya sendiri.
“ Perkenalkan,” kata pemuda itu mengulurkan lengan kanannya dengan susah payah, “ aku Hyunjoong, Kim Hyunjoong!”

Hyemee meraih tangan itu hati-hati. Lalu menggenggamnya dengan pelan. Tangan itu hangat. Namun Hyemee melepaskan tangan itu segera. Ia sudah menyadarinya sejak semalam, ketika membersihkan luka pemuda itu, orang ini sangat tampan, dan itu juga disetujui Hyejin yang tadinya paranoid.

Pemuda itu—Hyunjoong, melihat sekeliling dan memperhatikan tubuhnya sendiri. Sebuah jumper merah muda membungkus tubuhnya. Ia mengernyit ngeri melihat warna itu menempel ditubuhnya. Ia memandang Hyemee yang masih berdiri canggung. Hyunjoong berkata dalam hati.

Astaga, Taerin pasti membunuhku kalau melihat aku mengenakan pakaian ini dan mungkin aku tak tahu terimakasih, tapi sungguh, selera gadis ini sangat buruk.


***

Mind to wait for the next part?? hehe, thanks for visiting :)
you can leave me some comment ^^

FF_Symphony Of The Bullet_Part 1 : Close

Close

(Kim’s house)

Kim Taerin mengerang ketika hawa dingin merayapi seluruh tubuhnya. Selimut yang tadinya membungkus tubuhnya telah disingkirkan seseorang, membuatnya meraba-raba dengan kesal, mencari-cari benda dewa di saat pertengahan musim gugur itu.

“ Tidak ada tidur tambahan, Nak,” kata sebuah suara.
“ Oppa...” rengek Taerin sambil duduk bersila dengan mata masih tertutup.

“ Hari ini hari pertamamu sebagai siswa sekolah menengah, ingat?” Tanya pemuda berambut hitam kecoklatan itu.
“ Bagaimana mungkin aku lupa,” jawabnya.
“ Kalau begitu segera bersiap-siap atau kau terpaksa naik bus.”

Taerin membuka matanya, menatap kakaknya, Kim Hyunjoong. Kakaknya itu telah berpakaian rapi lengkap dengan dasi yang menunjukkan ketampanan seorang eksekutif muda.
“ Araso?” Hyunjoong memastikan.
“ Araso, Oppa.”

Tiga puluh menit kemudian, Taerin duduk di meja makan, sibuk merapikan dasinya yang miring. Hyunjoong sedang asyik menikmati coklat panas dari mug kesayangannya, sementara koran pagi terletak di sampingnya. Taerin menyambar koran lalu membaca headline-nya.

“ Mwo?” serunya, “ Oppa, ada importir marijuana terbunuh di sebuah pub.”
“ Sudah kukatakan, jangan baca berita kriminal saat akan berangkat sekolah,” ujar Hyunjoong.
“ Mengerikan...”
Hyunjoong menyambar koran dari adiknya, lalu tersenyum, “ aku tak mau kau terbayang-bayang berita ini di sekolah.”

“ Ara,” jawab Taerin, “ bukan hal yang perlu kulakukan, sepertinya siswa baru akan sangat sibuk.”

***

(Han’s house)

Sebuah rumah kontrakan kecil terselip di antara toko-toko padat di kota Seoul. Rumah itu menyambung dengan toko-toko kecil di sisi kiri dan kanannya, serta terletak beberapa meter saja dari sebuah pub mewah di sana. Kesibukkan pagi pun hinggap di rumah kecil itu.
“ Onnie...” Han Hyejin berteriak dari ambang pintu kamarnya.
“ Wae!?” Sergah gadis satunya dengan kesal karena tengah sibuk memasak.

Hyejin melembutkan ekspresi wajahnya saat melihat sambutan sang kakak yang mematikan.

“ Aku kehilangan earphone,” adunya.
Han Hyemee berbalik, menarik napas dan memperbaiki posisi kacamatanya. Rambut sebahunya dikuncir tinggi.

“ Sudah periksa jumper yang kemarin kau pakai?” ujar Hyemee.
“ Ah, aku lupa, mian hae Onnie...”

“ Gwaenchana yo, cepatlah, nanti kau ketinggalan bus.”
“ Ne...”

***

(Taerin’s side)

Sebuah mobil menepi di dekat sebuah gedung sekolah yang berbentuk balok itu. Beberapa mobil juga ikut menepi untuk menurunkan para pelajar muda berseragam SMA Cheonsang. Kim Taerin turun dari mobil sambil menggigil, mantel tebal membungkus tubuhnya dengan syal yang dililitkan pada lehernya.
“ Taerin-ah,” panggil kakaknya dari dalam mobil, “ semoga berhasil.”
“ Ne... gomawo,” sambut Taerin.

Dengan tersenyum kakaknya mengendarai mobil meninggalkannya, ia melambai kemudian menghela napas. Hari pertama ini tidak mudah baginya, pasalnya, tak ada satu pun teman satu sekolahnya sebelumnya yang masuk sekolah itu. Tapi, pilihan kakaknya tak dapat ia tolak, lagi pula ini sekolah favorit yang merupakan almamater kakaknya.

Taerin memasuki gerbang besar yang dingin itu, merasakan telapak tangannya mengerut saat menyentuhnya. Riuh rendah obrolan para siswa terdengar di tengah semilir angin musim gugur yang dingin. Rambut Taerin yang hanya dua senti di bawah telinga tertiup angin, membuat bulu-bulu halus di tengkuknya meremang menahan dingin.

Semua siswa melangkahkan kaki menuju ke tempat yang sama, tubuh-tubuh itu ada yang berjalan soliter dan ada pula yang seperti Taerin, sendirian. Ia pun mengikuti langkah siswa lainnya menuju aula di sisi kiri gedung sekolah. Suara tawa dan cekikikan para gadis membuat Taerin merasa nyaman, itulah bagian yang tak pernah berubah dari sekolah.

Pintu berdaun dua terbuka lebar di hadapannya, mempertontonkan kemewahan dan keindahan ruangan itu. Karpet merah tergaris mulai dari pintu aula sampai tangga panggung. Kursi-kursi berpita merah juga berderet sebanyak sembilan ratus buah di sisi kiri dan kanan. Sementara dinding yang tinggi dan berwarna coklat membuat para siswa baru menjadi kikuk karena kesan kesombongan yang ditimbulkan nuansanya.

Gadis itu mengambil tempat di deret nomor dua dari depan. Tempat yang memang dikhususkan bagi siswa baru. Seorang gadis mengambil tempat di sampingnya, senang sesaat melihat gadis itu hanya sendiri, namun kemudian hatinya mencelos ketika beberapa orang bergabung. Taerin kembali menunduk, memainkan ujung mantelnya. Ia mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru aula dan menemukan hapir semua kursi terisi penuh.

Para guru telah berada di atas panggung, duduk di tempat masing-masing, menunggu kepala sekolah memulai pidato pembukaannya.
“ Selamat datang bagi para siswa baru dan selamat datang kembali bagi siswa kelas senior,” ucap kepala sekolah dengan wajah bijak yang menenangkan.
Berikutnya diisi dengan basa-basi tentang sekolah dan prestasi yang ingin dicapai dengan bergabungnya para siswa baru. Taerin nyaris menguap saking panjang dan membosankannya.

“ Nah, untuk hari ini, selamat belajar dan semoga kalian dapat menikmati setiap hari yang akan kalian lalui sebagai keluarga sekolah Cheonsang ini.”
Deru tepuk tangan terdengar dari semua penjuru, Taerin ikut bertepuk tangan. Lalu satu persatu para siswa bangkit dan berjalan melewati karpet merah menuju ruang kelas masing-masing. Taerin mengarah ke tangga pertama menuju lantai empat, tempat ruang kelasnya berada.

Taerin mencium aroma khas ruang kelas ketika melangkahkan kaki memasuki ruangan itu. Papan tulis hijau besar ada di depan ruangan, tiga puluh set bangku dan meja belajar berderet rapi enam-enam kebelakang. Gadis bertubuh mungil itu mengincar posisi tak istimewa di deret paling kiri, nomor dua dari depan. Segera saja ia bergegas menyeret langkahnya ke sana, namun di saat akan meletakkan backpack-nya seorang gadis mendahuluinya.

“ Mian hae,” kata gadis itu, lalu Taerin hanya tersenyum dan mengambil tempat di belakangnya.
Sebuah tangan mungil terangsur dihadapan Taerin yang duduk dengan kikuk sambil mengetuk-ngetuk meja.
“ Jung Yoori, panggil aku Yoori, kau?” Tanya gadis yang duduk di hadapan Taerin, gadis itu kaget lalu meraih tangan di depannya.
“ Kim Taerin,” jawabnya.

Yoori tersenyum lalu dengan sendirinya membuka obrolan dengan Taerin, beberapa kali ber-highfive dengan beberapa anak laki-laki yang kemudian ia kenalkan pada Taerin, tampaknya Yoori cukup populer. Yoori berbicara macam-macam, Taerin cukup nyaman dibuatnya. Gadis itu ceria dan penuh semangat, Taerin juga senang saat tahu bahwa Yoori juga suka taekwondo, merasa menemukan titik yang sama dan itu menyenangkan. Ia pikir ia akan berakhir dengan dikelilingi sarang laba-laba, kesepian.

Keributan tiba-tiba terhenti saat beberapa orang siswa berwajah kaku dan tegas memauski ruangan. Mereka mengalungkan tanda pengenal bergambar lambang Organisasi Siswa Cheonsang, dengan nama masing-masing terukir dibawahnya. Pemuda yang paling depan mulai berbicara, sementara semua teman sekelas Taerin duduk rapi di tempat masing-masing.

“ Kami dari Organisasi Siswa, hari ini inspeksi peraturan bagi siswa baru, dan kami mulai dengan pemeriksaan kelengkapan seragam,” katanya, di saat yang bersamaan mereka mulai menyebar.
Seorang gadis bertubuh agak kecil dengan wajah lucu mendekati deret Taerin. Yoori lolos pemeriksaan dengan sukses. Gadis itu mendekati Taerin, memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu detik berikutnya ia tersenyum misterius.

“ Tidak ada warna tali sepatu yang berbeda, hanya warna putih...” ucapnya menatap lurus Taerin.
Taerin mencelos, ia menggunakan warna hitam yang disarankan kakaknya. Detik itu juga ia bersumpah akan mencekik kakaknya begitu sampai di rumah. Memang salahnya tidak membaca semua peraturan dengan sempurna, tapi kali ini ia yakin kakaknya sengaja melakukannya. Gadis cantik di hadapan Taerin itu tersenyum lagi.

“ Kalau nantinya masih tidak mengerti, kau bisa menemuiku di ruang Organisasi,” saran gadis itu sarkastik, seraya menegakkan tubuh, siap melakukan inspeksi selanjutnya, “ ah, ingat namaku baik-baik.”
Taerin melihat dengan seksama tanda pengenal yang dipakai gadis itu, lalu mencatat nama itu baik-baik di otaknya, dan berjanji tidak akan melupakannya, Han Hyejin.

***

Hingga pulang sekolah, Taerin masih kesal karena kejahilan kakaknya. Taerin terus-terusan memberengut, Yoori menenangkannya setelah sebelumnya menertawakan Taerin. Ia dan Yoori berpisah di ambang pintu, gadis itu bergabung dengan beberapa teman laki-laki, tersenyum menyadari dirinya mendapat teman baru, yang sangat baik dan menyenangkan.

Sekolah mulai lengang, ia harus menunggu Hyunjoong menjemputnya. Karena bosan, Taerin berjalan-jalan di sekitar sekolah, di lantai satu. Beberapa orang masih berseliweran di koridor. Taerin menuju bagian kiri gedung dan menemukan dirinya terkejut mendengar sebuah lagu mengalun. Ia mencari ruang musik yang memang ada di dekat sana. Lalu berhenti saat kakinya menginjak rerumputan di dekat jendela sebuah ruangan. Lagu itu terdengar jelas di sana. Sesosok tubuh tinggi kurus tengah berdiri di sana, memegang flute berwarna perak, memainkan lagu yang membuat Taerin merasa hatinya penuh dan hangat.

Taerin menatap sosok itu lekat-lekat. Pemuda itu membelakanginya, rambut coklatnya agak ikal, posisi yang mengagumkan. Kaki pemuda itu sedikit mengetuk menikmati permainannya sendiri. Ia tak mengenakan jas sekolahnya, hanya kemeja putih panjang dengan sweater hitam Cheonsang, sementara jasnya ia letakkan di atas kotak flute berwana hitam mengkilat yang tampak mahal.

Taerin kemudian menunduk, melipat tubuhnya di bawah jendela yang terbuka. Memeluk lutut sambil meletakkan dagunya di atas lutut, menikmati lagu itu. Ia tak bisa menghindar, lagu itu menyenangkan, membuatnya tak ingin berhenti mendengarnya. Sejujurnya itu menghadirkan kenangan masa kecilnya. Melihat kembali dalam bayangan samar, ayah, ibu, dan kakaknya dalam layar berasap, melihat senyum mereka terkembang.

Dan tersadar ketika setitik air yang hangat dan sedikit asin itu mengenai lututnya yang terbuka. Segera berusaha membuang bayangan itu jauh-jauh. Ia sudah berjanji pada Hyunjoong tidak akan menangis lagi. Ia memang tidak pernah menangis lagi, terakhir kalinya ia menangis adalah dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya meninggal. Iya, sejak hari itu lah dia selalu menepati janjinya pada Hyunjoong, ia tak pernah menangis lagi, namun janjinya runtuh hari ini, ia menangis, hanya karena lagu tolol yang entah dimainkan oleh siapa.
Taerin merasa kesal. Ini bukan dirinya. Ia tak suka mengingkari janji, terlebih lagi pada kakaknya. Tapi, ia tahu, sangat naif kalau ia tidak menangis sementara luka-lukanya terbuka kembali. Selama ini ia sudah melarikan diri dari ingatan itu. Dan itu berhasil membantunya menepati janji pada Sang Kakak, hanya itu yang ingin ia lakukan. Taerin mendengus kesal, mengutuki siapa pun yang berada di dalam sana dan tengah memainkan lagu itu.

Tetapi, ia tak bisa menghalau air matanya atau pun pergi dari tempat itu, ia lalu berbisik lirih, “ Oppa, apa salah kalau merindukan Umma dan Appa saat ini?”

Permainan itu berhenti sejenak, Taerin menegang, takut pemuda itu menyadari keberadaannya. Namun, detik berikutnya permainan pemuda itu berlanjut, membiarkan Taerin tenggelam sedalam-dalamnya menuju masa lalu.
Dan Taerin tidak menghindarinya, ia membiarkan dirinya terperosok, membiarkan air matanya yang lembab di pipinya. Dan mengusapnya sesaat setelah melihat mobil kakaknya merapat di depan gerbang sekolah.

***

Please look after the next part ^^ thanks for visiting :)

INGIN BANGKIT DARI HIATUS

Entah bagaimana membicarakannya, tapi sekarang saya akan mulai post FF berbahasa Indonesia yang berjudul SYMPHONY OF THE BULLET...

Role dalam FF ini terdiri dari:
1. Kim Hyun Joong SS501
2. Kim Hyung Jun SS501
3. Choi Minho SHINee
4. Lee Taemin SHINee
5. Lee Hyuk Jae SuJu
6. Han Hyemi (fictional, it can be you ofc)
7. Kim Taerin (fictional, it can be you)
8. Han Hyejin (fictional, you you and you)
9. Jung Shinhye (fictional, you or maybe you)
And other cast will be revealed soon ^o^

Hope you guys enjoy reading my fics :) will try to make better and more...

Tags:

HELLO... OHAYOU... ANNYEONG...

hI there... i'm new here, my first livejournal account...

Nice to know you all...
ah, I'm freaking out when find some fiction, esp for Korean and Japanese fan fiction...
Love to read and write, my biggest fandom is SS501, New S, Big Bang, Arashi, KAT_TUN, SHINee, TVXQ, Super Junior, MBLAQ, etc. Love all of them... XDDD
Ah, my favorite couple is HyunSaeng, YunJae, Onkey, RyoPi, MinJoon, KyuMin, YooSu, 2min, etc.

Add me, add me, add me... ^^v